Marigaul.com : Bergaul Online

Go Back   Marigaul.com : Bergaul Online » Umum » Hiburan » Film

Notices

Reply
Thread Tools Display Modes
Mengenang Kembali Warkop DKI
Buzz
Rep Power: 100 Buzz is a jewel in the roughBuzz is a jewel in the roughBuzz is a jewel in the rough

Awards Showcase
Lifetime Achievement 
Total Awards: 1

Send a message via Yahoo to Buzz
Status: Offline
Status: President
Joined: Mar 2009
Posts: 901
 
Buzz's Avatar
Reply With Quote
 
 
Default Mengenang Kembali Warkop DKI
  #1 (permalink)

Tulisan ini di publish karena saya sangat menggagumu Warkop DKI terutama Alm mas Dono. Walaupun beliau sudah tiada tapi semua karya Warkop khususnya akting mas Dono sangat berkesan untuk saya.




Lampu rumah keluarga Indro Warkop tampak terang. Di perumahan mewah Jalan Kayu Putih Tengah, Jakarta Timur, itu tampak tiga motor berdiri berjajar. Dua motor Harley Davidson dan satu motor Yamaha. Seekor burung kenari bertengger dalam sangkar yang bergantung tak jauh dari ketiga motor itu. Satu mobil Jeep putih buatan tahun 1981, terparkir di garasi terbuka. Ada lambang motor Harley Davidson berukuran besar yang terpaku di tembok garasi itu.

Indro memang menggandrungi Harley Davidson. Berbagai aksesoris motor besar buatan Amerika itu pun menjadi penghias di ruang tamunya. Ada yang terbuat dari tembaga dan berbentuk lukisan biasa. Miniatur sepeda tua di dalam figura kaca, berdiri di meja kiri. Boneka berkepala singa, terpajang di meja sudut kanan.

Siang itu, Indro duduk santai di samping pajangan boneka singa. Persis menghadap keluar rumah. Di rumahnya tak ada asbak rokok. Maklum, sejak dirinya didiagnosis terkena gejala penyakit jantung, ia merokok.

Malam itu, pertengahan Mei, ia mengenakan baju berbahan jeans berlengan buntung dan celana “kargo” gunung berwarna coklat. Ujung lengan dekat bahu bagian kanan dan kirinya, ditato lambang Harley Davidson. Telinga kiri berusia 49 tahun itu dihiasi tiga anting perak dan dua anting di telinga kanannya. Penampilan garang itu rasanya pas dengan hobinya mengendarai motor besar.

“Gue udeh nggak konvoi-konvoi lagi. Pake motor Harley, pas memang lagi kepengen jalan aja. Maunya sih, pake motor kecil. Tapi, kasihan motornya. Badan segede gini, kok pake motor kecil,” Indro sambil memperlihatkan badannya.

Menggendarai motor Harley Davidson, hobi yang mendarah-daging dari keluarganya. Di komunitas Harley Davidson, ia menjabat sekretaris jenderal cum pendiri pertama Harley Davidson Club Indonesia (HDCI). Karena kegandrungannya, anak bungsunya ia beri nama Harley. Motor pertamanya dibeli tahun 1975.

“Ini mobil pertama yang gue punya. Keluaran tahun 1981,” ujarnya. “Mobil ini gue beli karena jasa Warkop. Makanya, gue piara banget ampe sekarang. Pokoknya nggak mau gue jual.”

“Semua yang gue punya, berkat jasa Warkop. Nggak ada pendapatan lain.”

Baginya, Warkop adalah darah daging. Meski sendirian, ia tak ingin Warkop pupus. Ia merasa masih sebuah keluarga. Keluarga yang harus dipertahankan. “Warkop kan, tinggal gue doang. Ya, gue yang memberikan saran dan mengawasi kehidupan mereka,”

Mereka yang dimaksud Indro adalah anak-anak keluarga Warkop, mulai Dono hingga Kasino. “Kalo dihitung-hitung, gue udeh punya anak tujuh. Tiga anak gue, satu anak Kasino, dan tiga anaknya Dono.”

*********




Tahun 1973 di Perkampungan Mahasiswa Universitas Indonesia di Cibubur, sedang berlangsung konsolidasi mahasiswa. Mereka akan menentang rencana kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kai Tanaka ke Jakarta untuk dengan Presiden Soeharto. Di sana Kasino, Nanu, dan Rudy Badil yang paling menonjol mengatur acara supaya ramai dan tidak menjenuhkan.

Ide penentangan Tanaka berawal saat berlangsungnya diskusi di UI pada Agustus 1973. Pembicaranya, Subadio Sastrosatomo, Sjaffruddin Prawinegara, Ali Sastroamidjojo dan TB Simatupang. Saat itu mereka mendiskusikan soal peran modal asing.

Temmy Lesanpura, mahasiswa UI yang juga Kepala Program Radio Prambors menemui Kasino, Nanu, dan Rudy Badil di dalam acara konsolidasi mahasiswa tersebut. Ia menawari ketiganya untuk mengisi acara radio Prambors. “Mau nggak isi acara di Prambors,” tanya Temmy. Ketiganya setuju. Namun mereka masih apa nama acara itu.

Setelah berdiskusi panjang, akhirnya mereka temukan nama acara itu: ‘Obrolan Santai di Warung Kopi’. September 1973, mereka mulai siaran. Jam siaran setiap hari kamis malam pada jam 20.30 sampai 21.15. Tak ada persiapan apa pun. Ide guyonan selalu ditemukan ketika akan siaran. Dan ceritanya seenaknya saja.



Nama warung kopi disematkan sebagai tempat yang paling demokratis untuk membicarakan hal-hal hangat di negeri ini. Konsep siaran bergaya komunikatif dan berkesan orang kampung memang menjadi cara menarik minat orang untuk mendengarkan siaran mereka. Untuk itu, masing-masing punya aksen suara yang berbeda. Kasino menirukan logat China dan Padang. Nanu dengan logat Batak, dan Rudy Badil dengan aksen Jawa.

Tahun 1974, Dono direkrut untuk bergabung di acara itu. Ia dikenal sebagai salah satu aktivis UI. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS, sekarang FISIP) itu dikenal tak banyak bicara. Namun sekali berbicara, banyak orang . Apalagi aksen Jawa-nya kental.

“Dari materinya, acara ini sering nyinggung juga tentang anti modal asing. Tapi, sentilannya tidak kentara. Halus banget. Kita tahu, arahnya ke masalah hangat juga,” tutur Indro.

15 Februari 1974. Saat itu Tanaka tiba di Jakarta. Mahasiswa melangsungkan aksi unjuk rasa di Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Tiga pokok tuntutan mahasiswa dalam aksi itu; pertama, pemberantasan korupsi, perubahan kebijakan ekonomi yang berkaitan dengan modal asing yang didominasi Jepang, dan pembubaran lembaga yang tidak konstitusional.

Aksi kedatangan Tanaka kemudian meluas di beberapa tempat lainnya di Jakarta. Ironinya, terjadi kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan. Mobil dan motor buatan Negeri Sakura itu, dibakar massa. Asap mengepul di segala penjuru.

Peristiwa itu, akhirnya dikenal dengan ‘Malari 74’, kependekan dari Malapetaka Lima Belas Januari 1974. Dari kejadian itu, diperkirakan, 11 orang meninggal, 300 orang luka-luka, 775 orang ditahan, ribuan mobil dan motor rusak serta terbakar. Ratusan kilogram emas hilang di sejumlah toko perhiasan.

Saat berlangsung unjuk rasa anti Tanaka, Wahjoe Sardono alias Dono berada di antara kerumunan massa di kampus UI, Salemba, Jakarta Pusat. Dengan membawa , ia berupaya mendekati podium. Dono meraih mikrofon, lantas menyorongkannya kepada Rektor UI Prof. Mahar Mardjono untuk berorasi di hadapan massa.

Dono tidak hanya ikut aksi demo. Ia juga sibuk memotret semua peristiwa aksi. Banyak wartawan yang sudah mengenalnya sebagai pelawak di Radio Prambors. Kepada salah satu media di Jakarta, Dono mengatakan dengan berkelakar,” Tadinya saya punya niat untuk ikut demonstrasi yang dibayar.”

“Saya kan terkenal. Jadi kalau demonstrasi bisa cepet ngumpulin banyak orang. Kan, lagi krisis, wajar kalau orang nyari duit,” kelakar Dono kepada wartawan.

Dono sebenarnya ingin ikut bicara dan memberikan lawakannya untuk menghibur massa. “Tapi. Tidak diberi mikropon, jadinya batal.”

Sehari sebelum kejadian, Indro baru pulang dari Filipina menjadi kontingen Indonesia untuk acara Jambore Internasional. Tiba di Bandar Udara Kemayoran, Indro . Banyak tentara. “Gue pikir, kontingen pramuka disambut. Hebat banget,” kenang Indro. Saat itu ia masih kelas 1 SMA.

Dalam kontingen, turut serta anak Pakubuwono. Indro diminta menjaganya. Semua anggota Pramuka dibawa masuk ke dalam ruangan VIP. Lantas langsung dilarikan ke rumah kediaman Pakubuwono di Jalan Mendut, Menteng. Indro memilih pulang ke rumahnya. Firasat Indro, akan ada kejadian luar biasa di Jakarta. “Seharusnya kontingen dimasukan dulu ke karantina,” tuturnya.

“Besoknya gue baru tahu, kalau ternyata ada demo besar-besaran dan terjadi pembakaran.”

Jakarta mencekam. Di kampus UI, Salemba sudah ramai pengunjuk rasa. Indro berjalan kaki dari rumahnya ke kampus UI Salemba. Di sana, ia melihat situasi yang mengerikan. Pembakaran mobil dan motor banyak dilakukan di jalan-jalan. “Saya juga sempat nolong orang tua yang ketakutan,” tuturnya.

Sementara itu Kasino juga berada di antara massa yang berada di Bandar Udara Halim. Saat itu, dia menjabat sebagai Wakil Senat Mahasiswa FIS UI. Massa mahasiswa dan polisi sudah saling berhadapan. Polisi anti huru-hara dipersenjatai tameng rotan dan alat setrum. “Ye…beraninya pake setrum,” tutur Kasino.

Tiba-tiba, polisi menyerang pengunjuk rasa. Kasino dikejar-kejar sampai ke komplek Angkatan Udara yang tak jauh dari Bandara. Ia terpojok. Dengan posisi itu, Kasino mengatakan, “Jangan pukul dong pak. Saya kan cuma ikut-ikutan.” Kasino tidak jadi dipukul.

Masa-masa itu telah berlalu. Usai peristiwa Malari 1974, Warkop Prambors tetap mengudara dengan guyonan nya. Tahun 1976, barulah Indro bergabung. Ia sudah mengenal empat anggota Warkop Prambors. Maklum, rumahnya dekat dengan studio. Jika ada yang siaran sendiri, ia yang menemaninya. Saat itu, Indro masih kelas 3 di SMA 4 Jakarta.

Di radio Prambors, Indro bukan orang baru. Rumahnya berdekatan dengan radio itu. Nama Prambors diambil dari gabungan jalan di kawasan Menteng. Kepanjangan dari Jalan Prambanan, Mendut, Borobudur dan sekitarnya. Awalnya disematkan untuk Rukun Tetangga (RT) di sekitar situ. Julukannya, RT Prambors.

Saat itu, Radio Prambors hanya amatiran. Kakak sepupunya, Yudi, salah satu orang yang mendirikan sebelum radio itu akhirnya berubah fungsi menjadi radio bisnis. “Pas siaran, gue juga yang sering nemenin penyiarnya,” ujarnya.

Kasino yang mengajak Indro untuk mulai permanen di acaranya. Saat itu, sedang ada pertandingan softball. Indro menjadi pemain sekaligus tukang soraknya. “Ndro, nanti malam elu mulai permanen. Mau nggak?” Tanya Kasino seusainya. Indro langsung menerima ajakannya. Tak hanya di acara itu, Indro mulai diajak show Warkop.



Formasi acara obrolan di warung kopi menjadi lima orang. Kasino, Nanu, Rudy Badil, Dono, dan Indro. Tak ayal, acara ini kian ramai. Masing-masing punya perannya sendiri. Kasino kadang berganti nama menjadi Acing dan Acong dengan logat China. Nanu menjadi Poltak yang beraksen Batak. Rudy Badil berganti nama menjadi Mr. James dan Bang Kholil.

“Gue berperan sebagai Mastowi, Ubai dan Ashori dengan aksen Purbalingga. Sedangkan Dono sebagai Mas Slamet,” kata Indro.

“Pokoknya, semua isi obrolan bebas banget. Tentang apa aja,” kata Indro.

Nama kelompok mereka disebut dengan julukan Warkop Prambors. Pentas kali pertama tahun bulan September 1976, saat perpisahan SMP 9 Jakarta di Hotel Indonesia. Hasilnya dikatakan belum berhasil. Semua personil an. Mereka dapat honor transport Rp20 ribu. Indro belum bergabung.

Pentas kali pertama Indro di acara SMP 1 Cikini, Jakarta. Sebelum pentas, Dono harus mojok dulu untuk menenangkan dirinya. Rudy Badil, menolak mentas. “Badil dikenal demam panggung,” ujarnya. “Kalau Dono, harus pelajarin dulu materi guyonannya. Sebelum pentas, Dono ngumpet.”



Tak lama kemudian, Warkop diundang di acara IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Mereka dengan Mus Mualim, seorang pemain ‘Indonesia Lima’. Mus berencana membuat acara untuk tahun baru 1977 di TVRI alias Televisi Nasional Indonesia. Warkop ditawarin untuk nyanyi bareng oleh Mus Mualim. Nama acaranya Terminal Musikal, tempat anak muda yang mangkal di TVRI .

“Yang brengsek itu Nanu. Pas pentas di IDI itu. Ia malahan nggak jelas keberadaannya. Nggak tahu, ia ngumpet di mana,” kisah Indro.

“Mentas cuma bertiga. Gue, Dono, ama Kasino. Dono aja masih gugup. Jadi tinggal gue ama Kasino yang peran abis-abisan.”

Dari situlah, Warkop Prambors mulai dibesarkan. Semua media di Indonesia, banyak membicarakan kelompok lawakan ini. Guyonan Warkop akhirnya dikasetkan. Ada sembilan kaset. Kaset pertamanya berjudul cangkir kopi. Direkam langsung saat pementasan di Palembang. Di kaset kelima berjudul Pingin Melek Hukum. Indro berperan sebagai mahasiswa penyuluh hukum, sedangkan Kasino dan Dono sebagai warganya.



Ketenaran di radio dan di pementasan membuat Hasrat Juwil, eksekutif produser PT. Bola Dunia melirik Warkop Prambors. Hasrat yang juga anak Prambors, menghubungi Warkop untuk bermain . Soal skenario, Warkop diberikan kebebasan. Honor pertama untuk Warkop Rp15 juta. “Uang itu, kami bagi rata,” ujar Indro.

Film pertamanya berjudul; Mana Tahan di produksi tahun 1979. Artis perempuannya Elvy Sukaesih. Film terakhirnya berjudul; Pencet Sana Pencet Sini, dibuat tahun 1994. Artis pendukungnya, Sally Marcellina dan Taffana Dewi. Selama 15 tahun itu, Warkop telah memi 34 .

Beberapa perusahaan yang pernah melibatkan Warkop, antara lain PT. Nugraha Mas Film, PT. Parkit Film, dan PT. Garuda Film. Sejak tahun 1985, akhirnya diambil alih oleh PT. Soraya Intercine Film yang dimiliki oleh keluarga Soraya. Saat itu direkturnya, Raam Soraya.

“Raam sangat membantu keluarga Warkop. Sampai sekarang pun, ia tetap memperhatikan anak-anak kami. Ia juga, masih ingin bekerja sama dengan Warkop,” ujar Indro.
__________________
Selamat datang di Marigaul.com. Apakah ada yang bisa kami bantu?

 
 
Buzz
Rep Power: 100 Buzz is a jewel in the roughBuzz is a jewel in the roughBuzz is a jewel in the rough

Awards Showcase
Lifetime Achievement 
Total Awards: 1

Send a message via Yahoo to Buzz
Status: Offline
Status: President
Joined: Mar 2009
Posts: 901
 
Buzz's Avatar
Reply With Quote
 
 
Default
  #2 (permalink)



Tahun 1983, hari yang sangat menyedihkan bagi Warkop, Nanu bernama asli Nanu Mulyono, meninggal dunia akibat sakit ginjal. Dikuburkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Ia hanya sempat memerankan beberapa saja. Sedangkan Rudy Badil, tidak pernah sama sekali terlibat dalam pembuatan . Warkop akhirnya tinggal bertiga, Dono, Kasino Indro.

Nama Warkop Prambors akhirnya berubah menjadi Warkop DKI. Embel-embel Prambors dilepaskan untuk menghindari pembayaran royalti kepada Radio Prambors.

“Dulu sempat ada permainan anak-anak yang menyebutkan istilah DKI dengan nama Dono, Kasino, Indro. Kita . Kok ada permainan yang dikarang oleh anak-anak dengan nama kami. Kenapa kita tidak pake aja nama DKI” tutur Indro.

Sejak itulah mereka bersepakat menambah DKI di depan kata Warkop

“Akhirnya, berganti deh menjadi Warkop DKI. Terus diplesetin lagi, DKI itu kependekan dari Daerah Khusus Ibukota.” Indro .

Film yang dii Warkop DKI semakin menarik perhatian masyarakat. Semua orang membicarakannya. Film yang mereka i pun menjadi Indonesia termahal dan paling laris.

Era tahun 1980 hingga 1990, peran Indonesia berada di puncaknya. Di antara begitu banyak yang diproduksi pada saat itu, yang dii Warkop DKI dan Rhoma Irama, merupakan dua yang selalu ditunggu oleh penonton.



Pada masa jayanya, Warkop DKI tidak hanya ditayangkan bioskop lokal. Jaringan bioskop untuk orang kelas menengah ke atas, Teater 21, sering menayangkan mereka. Tak hanya itu, di kampung-kampung diadakan ‘layar tancap’ yang menayangkan Warkop DKI. Masyarakat pun berbondong-bondong untuk selalu menjadi tontonan menarik bagi masyarakat.

“Kita punya kelas penonton sendiri. Semua orang di Indonesia, selalu membicarakan kelompok Warkop DKI,” kenang Indro.

Dengan semakin terkenalnya, Warkop banyak mendapat undangan ke daerah di seluruh Indonesia. Kisah yang tidak terlupakan, kenang Indro, saat berkunjung ke Timika, Papua.

Masyarakat di sana memadati lapangan dengan mengenakan koteka. Selama berlangsung dialog lawakan, tak ada satu pun warga yang . “Kami ,” tuturnya. Koteka adalah alat penutup kean untuk pria. Di buat dari buah labu. Isi dan bijinya dibuang dan dijemur. Setelah kering, baru bisa dijadikan penutup kean.

“Tiba-tiba Dono berinisiatif. Ia berlari-larian dengan gayanya yang di atas panggung,” Indro memperagakan gaya Dono kepada saya. Gaya Dono, tiru Indro, bergoyak dan melenggokan tubuh sambil -tawa.

“Saya dan Kasino, ikutan juga bergaya kayak Dono. Eh…penonton baru pada ketawaan,” kenang Indro sambil .

Kocak Warkop DKI selalu ramai oleh penonton. Kelompok ini, tidak pernah surut dari zaman dan tidak pernah sepi dari kean. Di mana ada Warkop, disitu orang .

************

Tu Deddy Gumelar alias Miing yang kini membentuk kelompok lawak Bagito Group, punya kenangan sendiri dengan Warkop DKI. Tahun 1986, dirinya diajak oleh Kasino untuk menjadi staf asistennya. Sendirian.

“Kasino melihat saya, karena lawakan Bagito banyak nyinggung ke masalah sosial dan politik. Dan akhirnya saya diajak. Saya setuju. Karena Warkop juga punya nama besar saat itu,” kisah Miing.

Miing bergabung, setelah Nanu meninggal dunia dan Rudy Badil tidak ikutan lagi pada setiap pementasan. Miing tidak hanya menjadi asisten, beberapa kali ia terlibat langsung bermain dalam Warkop.

Di Warkop, ia banyak banyak belajar tentang profesionalitas. Pembagian kerjanya, Dono bertugas dalam hal hubungan pihak luar. Kasino soal bisnisnya, dan Indro sebagai bendahara dan mengatur hubungan kerja sama.

Honor yang diperoleh Miing sebagai asisten sebesar 10 persen dari pendapatan panggung yang diperoleh Warkop. “Saya pernah dapat Rp750 ribu. Berarti honor Warkop tujuh juta setengah. Saat itu uang segitu gede,” ujar Miing.



Tugas Miing, mempersiapkan semua perencanaan pementasan Warkop. Termasuk materi guyonannya. Jika ada pementasan di daerah, tugas Miing yang materi yang tepat untuk daerah tersebut. Sehingga, lawakan Warkop pas dengan situasi yang sedang digandrungi. Dari bahasanya sampai pola tingkah serta budaya daerah yang didatangi.

Selama menjadi asisten Warkop, banyak cerita yang mewarnai kehidupan Miing. “Maklum orang desa,” tuturnya. Tak ayal, sang asisten itu kerap jadi korban. “Saya pernah disuruh bawa setrikaan. Kostum yang mereka kenakan saja, pernah saya yang cuci sampai setrika.”

Setiap pentas di luar kota, Miing selalu sekamar dengan Indro. Dan Dono sekamar dengan Kasino. Selama sekamar dengan Indro, Miing selalu berebutan soal alat pendingin kamar. Indro, kata Miing, selalu menginginkan ruangan dengan pendingin. Sedangkan ia sendiri tak tahan.



“Indro, kan memang berasal dari orang mampu. Nah, gue! Gue kan, orang kampung yang selama hidup nggak pernah kena ruangan pendingin,” ujarnya.

Suatu hari di hotel Surabaya, Jawa Timur, Indro ingin tidur. Ia hanya mengenakan celana dalam dan kaos. AC dinyalakan. Miing tak tahan. Ketika Indro sudah terlihat mendengkur, diam-diam Miing mematikan AC. Ketika hawanya tidak dingin, Miing baru bisa tidur.

Belum lama ia terlelap, Indro terbangun dan diam-diam menyalakan AC lagi. Tak ayal, Miing terbangun dengan badan kedinginan. Begitu seterusnya. “Karena asisten, jadinya mengalah terus deh,” ujarnya.

Cerita lainnya. Ketika pesawat baru mendarat di Surabaya, Miing demam. Kupingnya terasa panas. Dalam kamar hotel, badannya menggigil. Demam tinggi. Selimut tebal menutup tubuhnya.. “Pokoknya, tubuh gue udeh kacau banget. Penyakit sinusitis kambuh lagi.” ujarnya.

Dalam kondisi itu, Indro malah menghilang dari kamar. Miing . Pelan-pelan ia keluar kamar. Dari balkon tangga hotel, ternyata Indro ada di loby hotel. Sedang merokok dan ngobrol dengan pegawai hotel.

Sambil teriak dan , Indro mengatakan, “Gue takut elu entar mati di kamar. Terus, gue yang yang kena jadi saksinya,” kata Indro kepada Miing. “ Waduh, kalo inget itu, gua jadi ketawa,” ujarnya.

Tentang Dono, ia adalah sosok orang yang serius dan sulit diajak komunikasi. Tapi sekali bicara, ternyata enak. Miing pernah dikerjain oleh Dono. Di Hotel Surabaya, sekitar pukul 09.00, petugas kamar hotel mengetuk pintu kamarnya. Miing membuka pintu. “Ini pesanan asinan dan acar,” kata petugas itu.

Miing . “gile..pagi-pagi siapa yang pesenin asinan ama acar,” pikir Miing . Akhirnya, disantap juga. Tak lama kemudian, hotel berbunyi, terdengar suara Dono dengan mengatakan, “Ing, asinan ama acarnya enak nggak,” ujar Dono sambil dan menutup telponnya.

“Sialan..nggak tahunya yang pesanin asinan ama acar pagi-pagi si Dono. Gile bener…gue dikerjain disuruh makan asinan ama acar doang…”tutur Miing mengenang masa itu.

“Kebiasaan Dono selama di daerah apa aja?” Tanya saya.

Dono itu, tutur Miing, punya kebiasaan bangun pagi. “Sebelum yang lainnya bangun, ia tuh, bangun pasti lebih dulu,” ujar miing.

“Ngapain pagi-pagi ia bangun?” Tanya saya.

“Dono selalu jalan pagi menelusuri kampung-kampung di sekitar hotel. Ia selalu membawa nya untuk memotret kehidupan sekitarnya. Itu yang selalu Dono lakuin. Pokoknya, nggak pernah ketinggalan,” ujarnya.

“Bagaimana dengan Kasino?” tanya saya.

Kasino, dikenal orang yang cukup care. Ia memperhatikan kebutuhan Warkop. Orang ini yang banyak memberikan saran dan pendapatnya. Ia juga yang pernah mengubah penampilan pakaiannya.

“Kasino pernah nyuruh gue, make jas. Gue, kan nggak biasa kayak gitu. Kasino bilang harus rapi,” tutur Miing. “Ia akhirnya ngasih jas miliknya. Bayangin aja, jas yang terbaik saat itu kan merek Prayudi. Merek ini dulu terkenal. Akhirnya, gue pake deh,” ujarnya, .

“Eh,..ia juga ngasih gue sepatu kets. Waduh…gue akhirnya pake juga. Gue kan, orang kampung. Istilahnya Tukul, ‘Katrok’,” Miing lagi.

Selain Miing, saya juga menemui Kiki Fatmala di rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Artis yang pernah menjadi peran pendukung dalam beberapa Warkop DKI. Kali pertama, gadis seksi ini terlibat dalam ‘Bisa Naik Bisa Turun’ yang diproduksi tahun 1991. Artis perempuan lainnya, Sally Marcellina.

“Terlibat di Warkop, punya kebanggaan sendiri. Pokoknya, semua artis saat itu selalu membicarakan mereka. Tidak mudah bisa main di Warkop,” ujar ia.

“Belum lengkap jadi artis, kalau belum main sama Warkop. Bayarannya paling tinggi, nama artis akan mudah melonjak. Cara kerjanya, juga enak.”

Warkop di mata Kiki, kelompok yang gaul dan tidak kaku. Semuanya serba tidak serius. Dari tiga anggota Warkop, yang paling konyol adalah Indro. Sedangkan Dono dan Kasino, lebih banyak serius. Hanya sesekali saja becanda.

“Indro kalau lagi iseng, yang dilihatnya bagian tubuh montok-montok. Apalagi kalau lihat dada,” tutur Kiki. “Tapi ini becandaan aja.”

Kiki berdiri dari bangkunya. Ia menirukan gaya Indro yang mengangkat kedua tangannya sambil didekatkan ke dadanya. “Nah..ini yang montok,” Kiki . “Kebiasaan kalau istirahat syuting, kami sering main kartu. Pake cemongan muka.”

“Pas sutradara teriak syuting dimulai lagi, kita cuekin aja,” ujar Kiki. “Terus kita bilang aja, Entar…entar…belum selesai nih,” kenangnya. “Pokoknya mereka konyol.”

*******
__________________
Selamat datang di Marigaul.com. Apakah ada yang bisa kami bantu?

 
 
Buzz
Rep Power: 100 Buzz is a jewel in the roughBuzz is a jewel in the roughBuzz is a jewel in the rough

Awards Showcase
Lifetime Achievement 
Total Awards: 1

Send a message via Yahoo to Buzz
Status: Offline
Status: President
Joined: Mar 2009
Posts: 901
 
Buzz's Avatar
Reply With Quote
 
 
Default
  #3 (permalink)



16 September 1997, Warkop DKI berduka. Kasino Hadiwibowo alias Kasino Warkop meninggal dunia pada usia 47 tahun. Suami Amarmini itu meninggal akibat menderita tumor otak di Rumah Sakit Cipto Mangukusumo, Jakarta. Indro tidak sempat melihat langsung detik-detik nyawa Kasino melayang.

Selama dalam perawatan, Indro dan Dono berbagi tugas menjaganya. Hari itu, tepat tugas Indro yang inya. Sebelum malam, Indro pulang ke rumahnya untuk menemui Istrinya. Rencananya, malam akan kembali ke rumah sakit.

Dokter jaga menelpon dan memberitahukan, kondisi Kasino kritis. Indro panik. Dengan motornya ia melaju. Setibanya di rumah sakit, dari parkir mobil ia harus berlari menuju ruang rawatnya. “Kasino sudah meninggal,” ujar dokter setibanya.



Indro terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca. Ia terlihat menahan rasa nya dengan peristiwa itu. Saya ikut terdiam. Indro melanjutkan ceritanya. “Semua keluarga besar Warkop termasuk istri saya, yang terakhir dikabarin.” Indro terdiam lagi. “Saya tidak ingin keluarga panik,” ujarnya. Kasino dikubur di pemakaman Tonjong, Bogor.

Pekan lalu, saya mengunjungi rumah tinggal keluarga almahum Kasino di kawasan Kayu Putih, Jakarta Timur. Saya ditemui putri tunggalnya, Hanna Sukmaninggsih, 31 tahun. Sudah menikah dan belum punya anak. Ia alumni Universitas Trisakti Jurusan Design dan Universitas Indonesia di Fakultas Psikologi.

Di rumahnya, Hanna berjualan ala Belanda. Rumah itu bukan peninggalan Kasino. “Ini rumah keluarga ibu,” katanya. Dulu, rumahnya berada persis di rumah yang ditinggalinya sekarang.

“Peninggalan Papa sudah tidak ada lagi. Sudah dijual untuk biaya pengobatan. Rumah, mobil dan semua peninggalan sudah habis,” ujarnya. “Kan, Papa menjalani perawatan sekitar setahun lebih.”

Kasino meninggal ketika Hanna masih kuliah. Untuk biaya hidup sehari-hari, ibunya yang bekerja ditambah dengan uang sisa hasil penjualan barang-barang keluarga. Dari situlah, Hanna menamatkan pendidikannya.

Menjelang kematian Kasino, Hanna dan Ibunya sedang pulang ke rumah untuk mengambil pakaian. Dan malam itu, tidak ada satu pun keluarga yang ada di samping Kasino. Kasino, kata Hanna, seakan tidak ingin kepergiannya dilihat langsung oleh keluarganya. Kabar duka itu malah diketahui dari sepupunya yang lebih dulu tiba di rumah sakit.

Kanker otak yang diderita Kasino, katanya, diduga saat dirinya jatuh dari sepeda gunung yang dikendarainya. Karena semenjak itulah Kasino mulai sakit-sakitan di bagian kepalanya. “Tidak ada pesan apa pun dari Papa sebelum meninggal,” ujarnya.



Empat tahun kemudian setelah Kasino meninggal, tepatnya 30 Desember 2001, Dono Warkop DKI meninggal dunia di usia 50 tahun. Pria kelahiran Solo ini, meninggal di Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta. Dosen FISIP UI ini, akibat penyakit tumor paru-paru. Indro menyaksikan detik-detik kematiannya.

Beberapa jam sebelum Dono meninggal, tim medis sudah memberi kabar kondisi kritisnya. Semua keluarga besar Warkop DKI dan artis lainnya, berdatangan. Dari kalangan wartawan hanya ada Rudy Badil. Indro berdiri persis di ujung ranjang berhadapan dengan Dono. Tim dokter berada di dekat wajah Dono sambil terus memeriksa kesehatannya.

Indro memperhatikan dokter yang mulai risau sambil melihat jam dinding yang terletak di belakang Indro. Saat itu, bersamaan terdengar suara adzan dari seorang ustad yang sengaja didatangkan. Indro ikut gelisah. “Tidak mungkin adzan. Saat itu, belum waktunya adzan Subuh. Masih tengah malam,” pikir Indro.

Dengan gelagat itu, Indro langsung menoleh ke arah jam dinding. “Saya melihat, jam menunjukan pukul 00.05,” tutur Indro. Dan bersamaan dengan itu, tim medis rumah sakit langsung menyampaikan, “Dono meninggal dunia pukul 00.05,” kata dokter di hadapan kerabat Dono. Ia dikubur di pemakaman Tanah Kusir, Jakarta.



Kematian Dono meninggalkan ketiga anaknya, Andiko Ario Seno, Damar Canggih Wicaksono, dan Satrio Trengginas. Istri Dono, Titi Kusumawardhani, lebih dulu meninggal dunia di tahun 1999 akibat penyakit kanker payudara.

Indro teringat selama Dono menjalani perawatan, kondisinya sangat memprihatinkan. Dia sulit untuk bernafas. Dadanya terasa sesak. Penyakit paru-parunya sudah parah. Ia hanya bisa memberikan isyarat tangan jika ditanya kondisinya.

Menjelang Dono meninggal, kenang Indro, ada keanehan saja. Tiba-tiba ia memanggilnya dan berbicara pelan-pelan. Dono mengatakan, nafasnya tidak terlalu sesak lagi. “Nafas legaan,” kata Dono.



“Ternyata, kalimat itu yang terakhir,” tutur Indro.

Indro punya rencana. Tulisan Dono yang pernah dimuat maupun yang masih tersimpan akan dibukukan. “Dono itu orang yang rajin menulis. Tapi, ia juga orang yang berantakan tentang arsip.”

Sejenak Indro bercerita kepada saya. Ia terlihat tegar menceritakan kisah-kisah terakhir temannya. “Anda tahu, apa terakhir antara Kasino dan Dono,” tanya Indro. Saya menggelengkan kepala. “Dua orang ini pernah tidak pernah bicara selama tiga tahun.”

Masalahnya, karena beda prinsip. Kasino dan Dono selalu beda prinsip dari banyak hal. Konflik itu, hanya Warkop yang tahu. Tidak ada satu pun orang yang mengetahui kejadian itu. “Termasuk para istri kami,” kata Indro.

Karena Dono sudah pernah membeberkan ‘perang tutup mulut’ itu, akhirnya bukan jadi umum lagi. “Bayangkan selama tiga tahun, berdua nggak ngomong. Kalau pentas, yang biasa aja. Tapi pas di luar kegiatan, berdua berdiaman,” tutur Indro.

Indro tak hanya bercerita kenangannya dengan Warkop. Kepada saya, dia juga menceritakan tentang keluarganya. Indro tak menyangka hidupnya di dunia lawak. Dulu, ia ingin sekali menjadi seorang polisi seperti ayahnya. Tapi dalam nya berjudul ‘Chips’ buatan tahun 1982, Indro berperan sebagai polisi yang bertugas mengatur lalu lintas. Artis pendukungnya; Tetty Liz Indriati dan Chintami Atmanegara.

Indro yang bernama lengkap Indrodjojo Kusumonegoro itu dilahirkan pada 8 Mei 1958. Ia anak tunggal dari seorang Jenderal Polisi bernama Muhammad Oemar Gatab. Indro dikaruniai tiga anak: Handika Indrajanthy Putrie, Satya Oktobijanty dan Harleyano Triandro Kusumonegoro. Pendidikan terakhir Indro adalah Sarjana Ekonomi di Universitas Pancasila, Jakarta.

Sebelum ayahnya meninggal, ada surat wasiat yang dititipkan kepada ibunya, R. Ay. Soeselia. “Intinya surat wasiat itu, gue nggak boleh meneruskan pekerjaan yang sama dengan bokap,” tutur Indro.

Mata Indro terlihat berkaca-kaca saat mengenang orang tuanya. Ia terdiam sejenak. Menurutnya, ayahnya seorang polisi yang jujur. Saat meninggal dunia, tidak ada warisan kekayaan apapun yang ditinggalkannya. “Bapak gue malah ninggalin utang untuk lunasin rumah.”

“Kalau bokap gue nggak jujur, mungkin keluarga gue nggak kere begitu.”

“Konon sih, dari beberapa tulisan yang pernah saya baca. Bokap gue ini, dulu gurunya Hoegeng,” ujarnya. “Bokap gue juga terkenal dengan julukan jagonya intelijen.”



Hoegeng adalah mantan Kapolri tahun 1968-1971. Nama lengkapnya Hoegeng Iman Santosa. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Iuran Negara (1965-1966), Menteri Sekretaris Kabinet Inti/ Presidium Kabinet Dwikora (1966-1967), dan Deputy Operasi Men/Pangab (1967-1968). Hoegeng adalah Kapolri yang pertama kali mencetuskan ide memakai helm. Ia meninggal dunia pada 14 Juli 2004.

“Pas bokap meninggal, ibu gue akhirnya buka katering makanan. Walaupun keluarga saya tinggal di Menteng. Dari luarnya aja keren, tapi dalamnya kere. Rumah gue itu, tempat tampungan semua keluarga dari kampung,” tutur Indro. “Semua kebutuhan dari kampung ini, keluarga gue yang tanggung.”

“Gue aja yang nggak mau minta-minta ama orang tua,” ujarnya.

Ibunya Indro pernah mengatakan, “Ndro, walaupun keluarga dari kampung datang. Tapi, rumah ini tetap warisan kamu. Kamu yang punya hak. Bukan siapa-siapa,” ujar ibunya.

“Tapi sampe sekarang, gue nggak tinggalin rumah yang di Menteng. Sampe sekarang, biarin aja keluarga dari kampung yang kumpul di sana.”

Kini, Warkop DKI hanya tinggal Indro sendiri. Akting tak jua ditinggalkannya. Ia masih sibuk syuting sinetron sebagai Indro Warkop di swasta. Ia juga menjadi pembawa acara “SMS” di Indosiar bersama Taufik Savalas.



Indro tidak ingin nama besar Warkop DKI ikut mati. Ia mengarahkan putra-putri dari Warkop DKI, sesuai pesan terakhir Dono, agar membentuk lembaga penerus keluarga besar Warkop DKI. Gagasan itu kemudian direalisasikan dengan mendirikan Lembaga Warkop DKI yang diketuai Hanna Kasino. Sedangkan pengurus lainnya adalah anak-anak Dono, Kasino dan Indro. Sekretariatnya di rumah Indro. Untuk memfasilitasi fans Warkop, lembaga ini membuat situs internet www.warkopdki.org.

Tak terasa, 34 tahun lamanya, Warkop DKI masih juga tak surut dari guyonannya. Kendati cuma ada Indro, grup ini masih dengan gayanya sendiri. Kelompok lawak legendaris ini akan membuat orang , sebagaimana mottonya yang selalu diingat oleh pengemarnya: “lah sebelum itu dilarang”.

Sumber : roesman.blogspot.com
__________________
Selamat datang di Marigaul.com. Apakah ada yang bisa kami bantu?

 
 
Buzz
Rep Power: 100 Buzz is a jewel in the roughBuzz is a jewel in the roughBuzz is a jewel in the rough

Awards Showcase
Lifetime Achievement 
Total Awards: 1

Send a message via Yahoo to Buzz
Status: Offline
Status: President
Joined: Mar 2009
Posts: 901
 
Buzz's Avatar
Reply With Quote
 
 
Default Wawancara Indro Warkop Di Male Emporium
  #4 (permalink)

Bacaan Pria Berisi, Male Emporium (ME), mengumumkan wawancara mereka dengan Indro Warkop sebagai Man Of The Month 24/06/2006. Judulnya lumayan menggoda isinya juga menarik sebagai bahan buat belajar.

INDRO WARKOP: SAYA SUKA YANG TOMBOI DAN BERDADA BESAR…

rela menyingkirkan kepentingan pribadi demi sebuah kebersamaan. Mereka bisa memendam yang namanya kebencian, untuk mendapatkan hal yang baik. Bukan hanya untuk kepentingan nama WARKOP, melainkan juga memuaskan penggemar. Saya bilang ke anak-anak, Kalau kalian bisa seperti itu, Insya Allah kelak kalian enggak akan berani korupsi. Karena apa? Karena kalian selalu ingin membahagiakan orang, bukan menyengsarakan orang.

Indrodjojo Kusumonegoro, alias Indro, alias Joy, adalah satu-satunya anggota grup komedi WARKOP DKI yang masih tersisa. Setelah kepergian (Alm.) Kasino pada Desember 1997, karena penyakit kanker otak dan (Alm.) Dono pada 30 Desember 2001, karena kanker paru-paru, otomatis Indro kini harus berjuang sendiri untuk mengisi periuk nasinya.

"Alhamdulillah, Allah masih memberikan Indro WARKOP layak jual. Terbukti dari sinetron WARKOP yang saya i sendiri punya rating dan sharing yang baik. Ternyata masih banyak orang yang sayang sama saya," kata kelahiran 8 Mei 1958, putra tunggal dari pasangan (Alm.) R. Moch. Oemargatab dan (Alm.) R.Ay. Soeselia ini.

Indro berkisah, awalnya ia tidak pernah berkeinginan untuk jadi komedian. Ayahnya yang seorang perwira tinggi di kepolisian dan pernah menjabat sebagai Kepala DKPN (Dinas Pengawas Keselamatan Negara) serta Kepala Dewan Tanda Jasa dan Kehormatan Negara, membuat Indro kecil bercita-cita untuk mengikuti jejak sang ayah, jadi tentara atau polisi. Tapi ternyata, niat tersebut malah tidak direstui oleh ayahnya.

"Pada saat sakit, bapak malah kirim surat ke ibu yang isinya melarang saya jadi militer, apalagi jadi polisi. Alasan bapak, ia tidak mau melihat nantinya saya tergilas, apalagi sampai terbawa arus. Karena tidak direstui bapak, cita-cita saya jadi tentara akhirnya terbang," kenang Sarjana Ekonomi dari Universitas Pancasila, yang ditinggal wafat sang ayah sejak masih berusia 9 tahun ini.

Tapi ketika akhirnya memutuskan menjadi komedian, Indro mengaku sempat juga merasa kurang percaya diri. Maklum saja, keluarga besarnya memang kebanyakan berprofesi sebagai militer, pejabat dan pengusaha, tidak ada yang berprofesi sebagai seorang entertainer seperti dirinya. Tapi sang ibu malah memberikan banyak dukungan.

"Ibu saya bilang, selama profesi saya tidak memberikan kemungkinan untuk korupsi dan merugikan orang lain, go a head!" cerita Indro.

Yang pasti dari dunia komedi, suami dari Nita Octobijanthi dan ayah tiga anak ini telah memperoleh popularitas dan materi. Bagaimana sosok Indro WARKOP yang sesungguhnya? Berikut wawancara panjang dan terbuka dengan pria pemilik hobi motor besar yang pernah aktif di kepramukaan dan sekaligus jadi Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas (Supeltas) tentang banyak hal. Termasuk, hal yang paling pribadi sekalipun.

Selain shooting sinetron, apa lagi kegiatan Anda sekarang?

Saya sekarang sedang fokus untuk mempersatukan anak-anaknya WARKOP. Ini demi kesenangan batin. Saya ingin mereka tahu bahwa bapak-bapak mereka adalah orang-orang yang bukan hanya memikirkan diri sendiri, melainkan juga orang lain. Sebagai contoh kasus, isi lawakan WARKOP tak jarang berisi sindiran terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat. Intinya, saya ingin dengan kebersamaan, anak-anak WARKOP juga bisa memikirkan nasib orang lain dengan apa pun yang mereka miliki. Nilai-nilai seperti itulah yang kini saya tanamkan pada anak-anak kami.

Maksudnya, Anda kini bertindak selaku ‘Bapak Asuh’ bagi anak-anak (Alm.) Kasino dan (Alm.) Dono?

Itu yang coba saya lakukan. Saya berusaha selalu memperhatikan mereka. Misalkan, ketika ada di antara anak Mas Dono atau Mas Kasino yang lagi ulangan atau ujian, saya akan mereka. Awalnya memang ada kendala, terutama ketika saya melakukan pendekatan ke anak-anaknya Mas Dono. Bukannya apa-apa, anak-anak Mas Dono adalah tipe anak-anak rumahan, dan sejak dulu bahkan tidak pernah didekatkan kepada kami. Tapi, saya terus mencoba. Sayalah yang turun mendekati mereka. Toh sekarang anak-anak Mas Dono malah memanggil saya dengan sebutan bapak.

Saya juga bercerita pada anak-anak Mas Dono dan Mas Kasino, bahwa ayah mereka adalah manusia biasa yang bisa membedakan mana kepentingan bersama dan mana kepentingan pribadi. Contohnya, Mas Dono dan Mas Kasino pernah tiga tahun musuhan dan saling enggak ngomong. Dengan bangga saya menceritakan itu pada anak-anak mereka. Saya bilang, "Jangankan kalian, ibu kalian saja enggak tahu mereka musuhan, apalagi penggemar." Dalam arti, Mas Dono dan Mas Kasino tetap berusaha menyuguhkan hiburan bagi orang lain.

Itu sebuah bukti, bahwa mereka rela menyingkirkan kepentingan pribadi demi sebuah kebersamaan. Mereka bisa memendam yang namanya kebencian, untuk mendapatkan hal yang baik. Bukan hanya untuk kepentingan nama WARKOP, melainkan juga memuaskan penggemar. Saya bilang ke anak-anak, "Kalau kalian bisa seperti itu, Insya Allah kelak kalian enggak akan berani korupsi. Karena apa? Karena kalian selalu ingin membahagiakan orang, bukan menyengsarakan orang." Saya selalu berusaha menanamkan contoh-contoh sederhana kepada anak-anak WARKOP dari apa yang dilakukan orangtua mereka dulu.

Katanya, itu sehat dan obat awet muda. Anehnya, banyak pelawak yang meninggal di usia muda, termasuk para personel WARKOP. Gimana tanggapan Anda?

Humor memang membuat orang sehat, tapi bagi pelaku humor kan belum tentu begitu. Buat kami para pelaku humor, humor atau komedi itu malah jadi sesuatu hal yang amat sangat serius. Mungkin lebih serius daripada para anggota DPR. Karena membuat orang itu kan enggak mudah. Diperlukan keseriusan untuk menangkap atau melontarkan humor, apalagi untuk melontarkan humor. Dalam arti, kita harus cerdas.

Salah satu contoh waktu kita melontarkan joke mengapa ABRI harus manunggal dengan rakyat? Kita bilang karena merujuk pada UUD 1945, pasal 33 yang garis besarnya menyebutkan kekayaan bumi Indonesia ini dikelola oleh negara dan diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Dalam hal ini, sama sekali enggak disebut kata-kata ABRI. Oleh karena itu, ABRI harus manunggal dengan rakyat supaya bisa ikut menikmati kekayaan negara.

Nah, komedi yang seperti itu akan sulit dilahirkan tanpa keseriusan. Waktu joke seperti itu kita lontarkan di hadapan penonton, yang kebanyakan memang anggota ABRI, mereka langsung geerrrrr… Bahkan, Benny Moerdani yang waktu itu menjabat sebagai Pangab dan ikut menonton acara juga . Mungkin, mereka menertawakan diri sendiri. He he he.

Dalam hal ini, bukannya saya mau mengatakan proses pencarian bahan lawakan berat sekali, sehingga bisa memendekkan umur. Tapi saya ingin meluruskan anggapan, bahwa seolah-seolah komedi atau humor itu urusan yang enteng-enteng saja. Dalam definisi WARKOP, komedi atau humor adalah sebuah hal yang serius. Mungkin, akhirnya orang lain yang menangkap komedi kita jadi sehat, karena mereka bisa , sedangkan kita yang membuat komedi jadi tidak sehat. Ha ha ha.

Tapi bukan berarti semua pelawak tidak sehat. Banyak pelawak yang usianya panjang sampai 70-an tahun. Soal Mas Kasino dan Mas Dono yang meninggal di usia muda, yah, memang sudah takdir dari Yang Di Atas. Dua-duanya terserang penyakit kanker. Mas Kasino kena kanker otak dan Mas Dono kena kanker paru. Padahal, dari mereka semua, yang gaya hidupnya kurang sehat adalah saya. Mas Kasino dan Mas Dono bukan perokok, sedangkan saya adalah perokok berat. Baru beberapa tahun belakangan ini, saya total merokok. Artinya, soal umur memang sudah jadi Allah, dan kita harus ikhlas.

Tapi yang pasti, kehilangan dua teman dekat tentunya sangat menyedihkan? Perasaan seperti apa yang Anda rasakan saat peristiwa itu terjadi?

Sewaktu Mas Kasino sakit, saya dan Mas Dono memang sudah siap akan kehilangan. Begitupun ketika pada akhirnya Mas Dono sakit, saya sendiri sudah siap akan kehilangan, karena itu adalah sebuah proses yang alamiah. Tapi, efeknya ternyata tidak sesederhana itu. Karena, tanpa saya sadari, WARKOP telah jadi salah satu elemen penting yang membentuk jati diri saya. Bisa dibilang, saya banyak belajar dari pola pikir Mas Dono dan Mas Kasino.

Karena WARKOP sudah demikian mempengaruhi hidup saya, tiba-tiba sekarang Mas Kasino dan Mas Dono sudah enggak ada, pastinya saya terpukul dan kehilangan betul. Kalau saya boleh jujur, saya bahkan sempat ketakutan. Ketakutan itulah yang membuat saya bertekad untuk bisa melestarikan apa yang sudah mereka tinggalkan. Sehingga, akhirnya terbentuklah Lembaga WARKOP.

Apa sih yang dimaksud dengan Lembaga WARKOP?

Ini adalah sebuah badan hukum yang didirikan oleh anak-anak kami pada 4 April 2002. Ada tujuh anak-anak WARKOP yang tergabung di lembaga ini. Ketuanya, anaknya Mas Kasino, Nana Kasino; wakilnya, anaknya Mas Dono, Aryo Dono dan bendaharanya, anak saya.

Lewat lembaga ini sekarang anak-anak kami tengah memperjuangkan HAKI (Hak Kekayaan Atas Intelektual) atas hasil karya orangtuanya yang memang telah saya hibahkan pada mereka. Mumpung saya masih hidup, saya memang ingin membagikan hak-hak mereka secara proporsional atas nama mereka sendiri.

Yang menarik lagi, WARKOP dijadikan panutan oleh banyak pelawak muda. Apa komentar Anda tentang hal tersebut?

He he he, jujur saja saya bilang, WARKOP itu kegedean nama. Kadang-kadang saya sendiri banyak pelawak sekarang yang ngejadiin WARKOP sebagai idola. Padahal kalau dari segi materi, kita mungkin kalah jauh dibanding mereka.

Balik lagi, mungkin karena dari dulu WARKOP concern dengan dunia komedi yang dimiliki anak muda. Enggak bisa dipungkiri, yang namanya becandaan itu kan miliknya anak muda. Biarpun ada orangtua yang suka becanda, porsinya pasti hanya sedikit. Kepedulian inilah yang membuat orang lain jadi respect terhadap WARKOP. Contohnya, WARKOP dulu sangat mensupport berdirinya LHI (Lembaga Humor Indonesia). Banyak pelawak-pelawak muda pada masanya lahir dari ajang ini, seperti Pepeng, Nana Krip dan Tom Tam grup.

Tapi yang saya sayangkan, gaya komedi para pelawak sekarang itu hampir mirip-mirip dengan WARKOP dulu. Contohnya, seperti Basho atau Ngelaba, yang konsepnya mirip acaranya WARKOP di TVRI dulu. Tapi kita enggak nyalahin, toh buktinya mereka juga sukses.

Anda merasa iri melihat fenomena itu?

Jangankan sekarang, dulu saja kami tidak pernah memiliki rasa takut akan tersaingi oleh yang lain. Artinya, kami enggak pernah punya rasa iri. Alhamdulillah, meski Bagito dulu booming, kita tetap bisa eksis. Karena kami percaya yang namanya rejeki itu sudah diatur Tuhan.

Dulu aja kalau kita mau serakah, tiap malam kita bisa manggung di dua sampai tiga tempat. Dalam sebulan, kita bisa 60 kali manggung. Tapi lagi-lagi kita , kalau semua job kita ambil, akan ada orang yang marah. Pelawak-pelawak lain tentunya akan marah. Itu yang membuat kami tetap proporsional.

Yang kini jadi pertanyaan, mengapa - WARKOP dulu itu banyak mengeksploitasi kemolekan tubuh wanita?

Film itu sebuah komoditi yang mencakup berbagai komponen. Nah kita hanya salah satu komponen dalam sebuah , yaitu bertanggung jawab dalam unsur komedinya saja. Kita tidak dalam kapasitas menentukan apakah kita akan mengeksploitisir wanita cantik atau tidak. Itu adalah wewenangnya produser. Kedudukan kita saat itu hanya sebagai pemain, gak lebih gak kurang. Artinya, di kita memang enggak mau idealis, hanya sekadar cari duit saja. Toh kalau Anda mau teliti, komedi manapun, baik buatan dalam negeri atau luar negeri, pasti melibatkan wanita cantik dan seksi, karena itu memang sudah jadi permintaan pasar.

Yang pasti, nama besar WARKOP memang membuat banyak figuran wanita yang cantik dan seksi datang berbondong-bondong ke lokasi shooting kami. Saat itu, tampil sebagai figuran di WARKOP memang jadi salah satu jaminan sukses, karena setelah itu pasti banyak lain yang memakai jasa si figuran.
__________________
Selamat datang di Marigaul.com. Apakah ada yang bisa kami bantu?

 
 
Buzz
Rep Power: 100 Buzz is a jewel in the roughBuzz is a jewel in the roughBuzz is a jewel in the rough

Awards Showcase
Lifetime Achievement 
Total Awards: 1

Send a message via Yahoo to Buzz
Status: Offline
Status: President
Joined: Mar 2009
Posts: 901
 
Buzz's Avatar
Reply With Quote
 
 
Default
  #5 (permalink)

Lantas, sejauh mana kedekatan para personel WARKOP dengan artis-artis seksi tersebut? Apa ada yang sempat terlibat cinlok?

Ha ha ha, kalau ada pepatah yang mengatakan tikus mati di lumbung padi, itu juga yang pernah kami rasakan. Bayangkan waktu di , kita pernah dikelilingi segitu banyak di mana mereka bisa seenaknya ganti pakaian di depan kita. Jujur saja, kami masing-masing pernah punya pengalaman cinta yang pada akhirnya jadi badai dalam rumah tangga. Menurut saya, itu memang pengalaman yang enggak perlu ditiru. Tapi Alhamdulillah semuanya selamat dari badai. Saya hanya positif saja, dengan pernah merasakan badai, kita jadi bisa membandingkan mana yang baik dan mana yang enggak.

Yang pasti, kalau ada yang lagi mengalami cinlok, kami bertiga cukup terbuka untuk bercerita. Kita bertiga saling mengerti dan menjaga , sampai akhirnya keluarga sendiri pada tahu.

Maksudnya, rumah tangga Anda pernah terguncang karena kehadiran wanita lain?

Seperti yang saya bilang di atas, saya memang sempat kena badai. Badai yang saya alami mungkin yang paling besar dibanding yang dialami Mas Dono dan Mas Kasino. Dan itu merupakan kasus pertama kalinya anggota WARKOP ada yang kena badai. Kejadiannya antara 1986 sampai 1990, dengan artis yang pernah jadi lawan main WARKOP (untuk nama, Indro minta off the record, red.). Saat itu rumah tangga saya nyaris berantakan. Alhamdulillah, Allah kasih hidayah dan akhirnya saya sadar.

Makanya, waktu akhirnya Mas Dono dan Mas Kasino kena badai juga, saya coba nasihati mereka. Bukannya sok tua, tapi karena saya sudah terlebih dulu ngerasain badai kayak gini. Waktu saya nasehati Mas Dono, awalnya dia sempat marah banget. Tapi Alhamdulillah semuanya lewat.

Saya hanya bersyukur, untungnya dulu belum zamannya infotainment dan tabloid. Coba kalau kejadiannya sekarang, mungkin kasus perselingkuhan kami akan jadi sasaran empuk tayangan-tayangan gosip seperti itu. Untungnya lagi, dulu itu kita dekat dengan wartawan lebih sebagai teman. Jadi kalau ada kejadian seperti ini, saya bisa bilang ke mereka, "Ok, gue sangat menghormati profesi elo dan sangat menjunjung tinggi kebebasan pers. Tapi pernah enggak elo efeknya pada anak-anak kami. Mereka akan dikucilkan oleh teman-temannya dan dikata-katain sehingga jadi minder." Alhamdulillah, dulu sih teman-teman wartawan mau mengerti dengan alasan seperti ini. Coba kalau sekarang, himbauan seperti ini pasti enggak akan mempan. He he he.

Kalau boleh tahu, alasan apa yang membuat Anda akhirnya sadar, dan memilih kembali ke keluarga?

Saat itu memang ada pergolakan yang kuat di batin saya. Di satu sisi, saya takut kehilangan keluarga, tapi di sisi lain saya sangat mencintai wanita lain. Saat itu kalau enggak kuat-kuat mental saya mungkin bisa jadi gila. Tapi di tengah pergolakan itu, saya akhirnya ingat anak-anak saya. Saya karena ternyata saya sudah tidak bersikap fair kepada mereka. Saya egois dan hanya memikirkan diri saya sendiri. Perlahan-lahan kesadaran untuk kembali kepada keluarga pun akhirnya muncul. Karena sebagai kepala keluarga, saya punya tanggung jawab untuk menjaga keutuhan rumah tangga saya.

Supaya tidak kena ‘badai’ lagi, kiat apa yang kini Anda terapkan untuk menjaga keutuhan rumah tangga?

Bagi saya, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Saya pernah mengalami badai yang amat sangat kuat, tentunya sekarang kalau ada mendung sedikit saya harus sudah siap-siap jangan sampai badai itu terulang kembali. Sekarang saya benar-benar takut nyerempet-nyerempet. Jujur saja, saya memang bukan orang yang bersih, tapi saya juga penakut. Artinya, saya pernah alami sesuatu yang demikian menakutkan dan enggak mau mengulanginya lagi.

Yang pasti, saya berusaha untuk tidak lagi membanding-bandingkan istri saya dengan wanita manapun di dunia ini. Karena kalau kita sudah mulai membanding-bandingkan istri, artinya kita sudah berada di pinggir jurang, dan siap-siap aja buat kecebur. He he he. Dalam hal ini, kita harus saling bisa menerima kelebihan dan kekurangan pasangan kita.

Selain itu, saya dan istri juga semakin sadar bahwa kepercayaan itu mahal sekali harganya. Kami saling introspeksi diri. Sekarang kami semakin menjunjung tinggi kejujuran dan keterbukaan. Contohnya, kalau saya dengan teman wanita dan saya mengajaknya makan, maka saya akan bercerita ke istri. Saya pikir, daripada istri saya mendengarnya dari orang lain, kan lebih baik dari mulut saya sendiri. Begitupun sebaliknya dengan istri saya.

Bisa cerita sedikit tentang istri Anda?

Kami pacaran sejak masih SMA. She’s my first love. Mungkin karena saya orangnya easy going, saya jadi agak terlambat punya pacar. Meski begitu saya punya kriteria wanita idaman. Physically, itu harus tinggi besar dan kalau bisa rambutnya juga pendek. Ya, saya suka yang rada-rada tomboi. Secara seks, saya suka yang ukuran dadanya besar. Nah, semua kriteria itu saya temukan dalam diri istri saya.

Apakah Anda juga berselera dengan wanita indo? Buktinya, artis wanita di - WARKOP kebanyakan berwajah indo.

Ha ha ha, itu kan seleranya produser, atau mungkin seleranya bangsa ini. Coba pikir, bukan hanya di WARKOP, dari dulu yang dianggap cantik selalu bertampang indo. Jadi kalau ada yang bilang produser enggak cinta produk dalam negeri, ya… memang benar.

Kalau saya pribadi, secara seksual malah lebih tertarik kulit berwarna ketimbang bule. Istilahnya, kalau ada yang memaksa saya harus dengan bule, saya akan bilang tolong carikan bule yang rambutnya hitam, atau lebih baik carikan orang Negro sekalian. Sorry ini hanya sekadar contoh, kalau saya nonton blue , saya lebih suka yang pemainnya Latin atau yang Negro, enggak suka nonton yang bule.

Tapi WIL Anda dulu kan indo. Kok bisa tertarik dengan dia?

Wah ini pertanyaan nakal, he he he. Kebetulan dia memang indo, tapi bukan itu yang saya lihat. Secara fisik dia memang cocok dengan kriteria saya, tomboi dan she has big boops. Selain itu dia juga smart. Buat saya smart itu seksi. Point-point itulah yang membuat akhirnya saya kena badai. Ha ha ha.

Orang melihat sosok dan hobi Anda sangat maskulin. Apakah itu merupakan refleksi dari kepribadian Anda?

Ha ha ha, jangan salah, saya orangnya malah gampang tersentuh. Enggak tahu kenapa ya, saya ini orangnya cengeng. Bisa dibilang, saya ini badannya Rambo tapi hatinya Rinto, he he he. Ada satu hal yang membuat saya tidak bisa menahan air mata adalah kalau saya melihat ketidakadilan dan kean yang dialami anak-anak.

Sebagai contoh, kalau sedang menonton AFI (Akademi Fantasi Indosiar), saya bisa ikut-ikutan melihat ada peserta yang tereliminasi. Karena saya mengibaratkan anak-anak itu seperti anak-anak saya sendiri. Saya bisa merasakan bagaimana hati orangtua mereka akan merasa terpukul melihat anaknya gagal.

Tapi soal temperamental, saya juga biangnya. Makanya kalau enggak ada urusan penting, saya paling malas keluar rumah. Bukannya apa-apa, melihat lalu lintas yang semrawut, hati saya bisa resah. Hal-hal seperti itu bisa membakar emosi saya. Kalau saya boleh jujur, saya enggak pernah takut mukul orang meski itu tentara sekalipun. Kalau saya anggap saya benar, saya berani, asalkan enggak bawa senjata. Saya lebih berani berantem tangan kosong dan sendirian, ketimbang main keroyok.

Gimana awal mulanya Anda tertarik dengan motor besar?

Hobi ini turun dari bapak saya. Mungkin nakalnya bapak saya terhadap jabatan adalah menginventarisir semua motor besar yang ada di kepolisian. Saat itu mungkin motor besar bapak saya ada sekitar 20 motor.

Dari kecil, karena melihat bapak saya gagah sekali naik Harley, saya punya cita-cita suatu saat harus punya Harley. Selain itu saya juga ingin punya mobil jip dan van. Sampai sekarang, hobi terhadap Harley dan jip masih saya geluti. Motor Harley saya sekarang ada enam, tapi kebanyakan motor-motor tua, yang dulu saya beli seharga Rp 400 ribu. Yang terbaru hanya Road King Police 1996.

Tidak tertarik koleksi mobil mewah?

Ha ha ha, bukannya enggak mau, tapi memang enggak mampu. Seperti saya sudah bilang di atas, WARKOP itu kan memang kegedean nama. Soal materi sih enggak seberapa dibanding pelawak-pelawak lain, Eko Patrio, misalnya. Lagian seandainya pun saya mampu membeli mobil mewah, saya enggak akan membelinya. Saya malah ingin beli mobil taktis buatan PINDAD supaya bisa nubrukin mobil bus dan metromini yang enggak patuh aturan lalu lintas. Ha ha ha…

Soal penampilan Anda yang akrab dengan rambut gondrong, tato dan anting, apa ini ada kaitannya dengan hobi motor besar Anda?

Betul banget. Selama ini kan orang selalu menganggap pria yang pakai anting dan bertato itu selalu negatif. Nah, saya ingin membuktikan tidak semuanya seperti itu. Bisa jadi ini merupakan wujud pemberontakan dari diri saya terhadap situasi orang-orang yang melihat fisik sebagai sebuah parameter.

Contohnya, sewaktu saya jadi pemimpin di Harley, saya malah suruh teman-teman memakai pakaian yang segarang-garangnya. Saya ingin menunjukkan meski penampilan kita garang, tapi perilaku kita tetap positif. Buktinya salah satu kegiatan yang kita lakukan dalam rangka ulang tahun Club Harley, adalah membersihkan rambu-rambu lalu lintas di jalan. Mungkin bagi orang lain itu hal sepele, tapi kami malah menganggapnya sebagai sesuatu yang penting untuk dilakukan. Itu merupakan wujud rasa terima kasih dan kepedulian kita terhadap jalanan yang sudah memberikan kita banyak kenikmatan.

Lalu bagaimana komentar istri dan anak-anak melihat penampilan Anda yang seperti itu?

He he he, kalau saya enggak pakai anting, anak-anak saya malah nanya. Mereka malah menyuruh saya tindik banyak di kuping. Dalam hal penampilan, saya memang cukup demokratis. Kalau istri atau anak-anak saya juga mau pakai anting banyak di kuping, ya silakan. Alhamdulillah meski penampilan saya seperti ini, anak-anak saya at least hingga saat ini enggak pernah terlibat hal-hal yang negatif.

Selain motor besar, apa lagi yang Anda koleksi?

Saya dulu mengoleksi untuk collector item. Cukup banyak koleksi saya. Tapi ketika krisis moneter, sedikit demi sedikit mulai saya jual. Dari kecil saya suka mengoleksi . Selain itu saya juga suka mengoleksi topi, terutama topi Harley. Jumlah topi saya sampai sekarang sudah mencapai ratusan. Saya suka pakai topi sejak muda. Itu juga yang membuat kepala saya jadi cepat botak. He he he.

Last question, di hadapan istri dan anak-anak, apakah sosok Anda juga dikenal humoris?

Kalau itu ditanyakan ke anak-anak, jawabannya beragam. Waktu diwawancarai wartawan, anak saya malah bilang saya ini sosok ayah yang galak dan mau menang sendiri. Padahal, maksud saya lebih kepada ingin menerapkan demokratisasi di keluarga. Artinya, anak-anak saya harus belajar bertanggung jawab sejak dini terhadap apa yang dilakukannya. Kesimpulannya, saya mungkin tipe ayah yang keras dalam menerapkan disiplin. Tapi saya sama sekali tidak pernah melakukan kekerasan fisik kepada anak-anak. Tidak seperti para mahasiswa STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) yang suka menyiksa adik kelasnya. He he he.
__________________
Selamat datang di Marigaul.com. Apakah ada yang bisa kami bantu?

 
 
Reply

Bookmarks

Tags
kembali, mengenang, warkop


Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On


Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Download Warkop DKI - Saya Duluan Dong 1994 Buzz Film 2 21st April 2009 11:24
Download Warkop DKI - Manusia 6 Juta Dollar 1981 Buzz Film 2 21st April 2009 11:22
Download Warkop DKI - Mana Tahan 1979 Buzz Film 2 21st April 2009 11:22
Download Warkop DKI - Gengsi Dong 1980 Buzz Film 1 21st April 2009 10:25
SMS tahu caranya dapetin kembali PUK Fajarseraya Handphone dan PDA 2 10th April 2009 04:23


All times are GMT +8. The time now is 05:05.
Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
Search Engine Friendly URLs by vBSEO 3.1.0 ©2007, Crawlability, Inc.